Selasa, 24 Mei 2016

MENYIBAK MISTERI PADI REBAH DI KECAMATAN CEMPA KABUPATEN PINRANG

Kejadian padi rebah yang terjadi di Kecamatan Cempa Kabupaten Pinrang pada musim tanam  Oktober-Maret 2015-2016 telah mengakibatkan kerugian yang cukup besar, kerugian bukan saja dirasakan oleh petani, tetapi pemilik mobil panen (harvester combine), dan pengusaha penggilingan padi turut merasakan imbas dari padi rebah ini.
 Menurut penuturan beberapa petani dan tokoh tani di kecamatan Cempa, kejadian padi rebah baru pertama kali terjadi separah ini di Kecamatan  Cempa, biasanya padi rebah terjadi cuma spot-spot saja dan terjadi ketika padi sudah mulai menguning dan siap panen, tapi kali ini padi rebah dengan areal yang sangat luas dan parahnya padi rebah terjadi pada padi yang bulirnya baru mulai berisi. Banyak petani bahkan ahli tani menyimpulkan kejadian ini disebabkan karena tingginya curah hujan, namun jika kita melihat data curah hujan, pada tahun 2012 curah hujan lebih tinggi bahkan sepanjang tahun 2012 hujan terus menerus turun sepanjang tahun dan ketika itu luas areal padi yang rebah tidak terlalu luas dan rata-rata padi rebah ketika mulai menguning dan siap untuk dipanen
Berangkat dari kejadian tersebut penulis mencoba mengkaji lebih jauh factor penyebab terjadinya padi rebah, kemungkinan ada beberapa penanganan atau kegiatan petani yang tanpa disadari justru dapat mengakibatkan padi menjadi kurang kokoh dan akhirnya rebah oleh karena itu perlu diketahui  permasalahan dan akar masalah itu sendiri sehingga nantinya ada sebuah pegangan menuju suatu perbaikan dalam hal system budidaya padi.
Berdasarkan pengamatan dilapangan dan interview yang dilakukan penulis  dengan petani yang ada di Kecamatan Cempa kabupaten Pinrang, ada beberapa  kegiatan petani  yang dapat mengakibatkan potensi  terjadinya masalah padi rebah menjadi lebih besar yaitu :
1.      Pengolahan Tanah
           Pengolahan tanah merupakan kegiatan utama dalam budidaya tanaman padi oleh karena itu perlu pengolahan tanah yang baik. Umumnya pengolahan yang  dilakukan oleh petani kurang benar, dimana kedalaman rata-rata hanya sedalam 25cm hal ini berhubungan dengan konsumsi bahan bakar (semakin dalam maka semakin tinggi penggunaan bahan bakar) sehingga akar padi kurang berkembang, sedangkan kemampuan akar padi dapat mencapai kedalaman 60cm bahkan mampu mencapai kedalam 80cm (Yoshida dan Hasegawa, 1982).
2.      Sistem Tanam
Hasil pengamatan dilapangan ditemukan bahwa dari 577,5ha luas areal yang mengalami  padi rebah yang terjadi di kecamatan Cempa, hampir semuanya dialami oleh petani yang melakukan system tanam benih langsung. System tanam ini memang disukai oleh banyak petani  karena  system ini  mempunyai beberapa keuntungan diantaranya kebutuhan tenaga kerja untuk tanam yang lebih sedikit, biaya tanam lebih rendah, lebih efisien dalam penggunaan air dan lebih cepat panen dibandingkan dengan tanam pindah. Namun jika dilihat perkembangan akar padi pada sistem tabela sistem perakaran cuma mengarah kebawah dan sangat sedikit kearah samping, hal ini terjadi akibat tingginya persaingan antara tanaman karena tabela tidak memiliki baris yang baik serta jarak antara tanaman terlalu rapat, selain itu ketiadaan varietas yang sesuai untuk tabela, kerebahan merupakan salah satu masalah utama.
3.      Tingginya Penggunaan Moluskusida yang berbahan aktif Fentin asetat
Berdasarkan pengamatan dilapangan, 90% petani di kecamatan Cempa menggunakan moluskusida yang berbahan aktif fentin asetat hal ini disebabkan karena bahan aktif ini mampu membunuh keong dengan cepat jika dibandingkan dengan moluskusida yang berbahan aktif  lainnya, walaupun ketinggian air dalam petakan sawah sangat tinggi moluskusida berbahan aktif fentin asetat masih dapat membunuh keong dengan baik.
Namun dibalik keunggulan dari fentin asetat ini ternyata menimbulkan efek negative terhadap tanaman padi, Fentin asetat sejatinya adalah fungisida yang bersifat non-sistemik dan bekerja dengan cara menghambat perkecambahan spora serta menghambat metabolisme jamur terutama respirasi, namun karena efek membunuhnya terhadap keong (moluska) sangat baik maka digunakanlah oleh sebagian produsen pestisida sebagai bahan baku pembuatan moluskusida. Penggunaan fentin asetat yang berlebihan sebenarnya dapat mempengaruhi tingkat keasaman tanah sehingga dapat berpengaruh pada kehidupan mikroorganisme dalam tanah, selain itu dapat pula membunuh jamur yang menguntungkan dalam tanah seperti jamur Tricoderma sp.
Trichoderma, sp merupakan cendawan (fungi) yang termasuk dalam kelas ascomycetes, dimana Trichoderma, sp banyak ditemukan di dalam tanah hutan maupun tanah pertanian atau pada tunggul kayu. Trichoderma, sp akan tumbuh dengan baik pada suhu 6ºC sampai dengan 41ºC dengan ph optimum 3 sampai dengan 7 dan Sukrosa dan glukosa merupakan karbon utama. Untuk berkembang biak cendawan ini menggunakan konidia (spora). Jamur Trichoderma mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kecepatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama kemampuannya untuk  membantu produksi perakaran sehat dan meningkatkan angka kedalaman akar (lebih dalam di bawah permukaan tanah). Akar yang lebih dalam tentunya akan membuat tanaman menjadi lebih resisten terhadap kekeringan dan kerebahan tanaman
4.      Penggunaan pestisida yang mengandung zat pengatur tumbuh (ZPT) Giberelin
       Pestisida merupakan factor pendukung dalam budiaya padi, kehadirannya terbukti mampu meningkatkan hasil pertanian. Pada saat ini persaingan antara produsen pestisida sangat tinggi, dimana suatu merk dagang yang mampu memberikan efek yang cepat pada tanaman maka akan sangat disukai oleh petani. Oleh karena itu para produsen ramai-ramai memberikan zat pengatur tumbuh khususnya dari jenis giberelin pada setiap pestisida yang dibuatnya karena memang efek giberelin sangat cepat khususnya dalam perubahan warna daun tanaman serta ukuran tanaman.
          Ada beberapa merk insektisida yang beredar dipasaran yang memiliki kandungan zpt giberelin sedangkan untuk fungisida hampir semua merk dagang telah dibekali dengan zpt. Lalu apa pengaruh zpt giberelin terhadap kasus padi rebah?. Giberelin merupakan salah satu jenis zpt selain dari auksin dan sitokinin yang umum digunakan dalam bidang pertanian, penggunaan zpt giberelin pada tanaman padi pada fase vegetative akan mengakibatkan tanaman akan tumbuh melewati batas potensinya atau batas genetiknya dimana batang akan memanjang akibat pembelahan sel tanaman dan perenggangan yang terlalu besar sehingga jarak antara ruas batang akan jauh selain itu diameter batang padi juga akan berkurang. 
         Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan dilapangan, dimana hampir semua kultivar atau varietas yang ditanam memilki ukuran diatas normal sebagai sebuah varietas,  sebagai contoh padi varietas ciherang yang diukur dilapangan mencapai tinggi 131 cm sedangkan pada buku deskripsi padi, tinggi padi ciherang Cuma berkisar antara 107cm – 115 cm, artinya ada penambahan ukuran tinggi sekitar 16 cm
5.      Penggunaan Pupuk Urea tidak tepat Waktu
       Berdasarkan anjuran pemupukan, bahwa waktu pemupukan terakhir untuk padi paling lambat sampai umur 45 Hst, artinya padi tidak boleh lagi diberi pupuk ketika sudah masuk fese generative. Namun akibat tingkat serangan hama penggerek batang yang tinggi dua musim tanam ini yang begitu besar telah merubah pola pemupukan padi yang dilakukan oleh petani, hasil pengamatan dan interview dari beberapa petani, ditemukan bahwa petani banyak melakukan pemupukan di umur 70 hst atau menjelang keluarnya buah, sebenarnya kegiatan ini bukan pemupukan yang dijadikan kegiatan utama, tapi dimana pupuk tersebut telah diberikan insektisida granul.                                       
           Kegiatan ini sebenarnya bertujuan untuk melakukan proteksi terhadap hama penggerek batang, petani berharap dengan adanya perlakuan ini maka tingkat serangan hama penggerek batang (beluk) dapat dikurangi. walaupun penggunaan pupuk pada perlakuan ini cuma sedikit, tetap memberi efek negative pada tanaman padi dimana padi yang telah masuk ke generative akan terangsang kembali untuk melakukan pembelahan sel pada jaringan tanaman akibatnya batang padi akan semakin lemah selain itu daun padi juga akan semakin tebal dan memanjang yang mana kesemuanya itu dapat mengakibatkan padi menjadi lebih rentan terhadap kerebahan.
            Itulah beberapa kegiatan petani yang dilakukan dalam system budidaya tanaman padinya yang menurut penulis telah memberi sumbangsi terhadap terjadinya padi rebah, dan tentunya diperlukan suatu kajian yang lebih mendalam sehingga dapat diketahui sejauh mana pengaruh setiap kegiatan petani tersebut dalam mengakibatkan terjadinya padi rebah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar