Kejadian
padi rebah yang terjadi di Kecamatan Cempa Kabupaten Pinrang pada musim tanam Oktober-Maret 2015-2016 telah mengakibatkan
kerugian yang cukup besar, kerugian bukan saja dirasakan oleh petani, tetapi
pemilik mobil panen (harvester combine), dan pengusaha penggilingan padi turut
merasakan imbas dari padi rebah ini.
Menurut penuturan beberapa petani dan tokoh
tani di kecamatan Cempa, kejadian padi rebah baru pertama kali terjadi separah ini
di Kecamatan Cempa, biasanya padi rebah
terjadi cuma spot-spot saja dan terjadi ketika padi sudah mulai menguning dan siap
panen, tapi kali ini padi rebah dengan areal yang sangat luas dan parahnya padi
rebah terjadi pada padi yang bulirnya baru mulai berisi. Banyak petani bahkan
ahli tani menyimpulkan kejadian ini disebabkan karena tingginya curah
hujan, namun jika kita melihat data curah hujan, pada tahun 2012 curah hujan
lebih tinggi bahkan sepanjang tahun 2012 hujan terus menerus turun sepanjang
tahun dan ketika itu luas areal padi yang rebah tidak terlalu luas dan
rata-rata padi rebah ketika mulai menguning dan siap untuk dipanen
Berangkat
dari kejadian tersebut penulis mencoba mengkaji lebih jauh factor penyebab
terjadinya padi rebah, kemungkinan ada beberapa penanganan atau kegiatan petani
yang tanpa disadari justru dapat mengakibatkan padi menjadi kurang kokoh dan
akhirnya rebah oleh karena itu perlu diketahui
permasalahan dan akar masalah itu sendiri sehingga nantinya ada sebuah
pegangan menuju suatu perbaikan dalam hal system budidaya padi.
Berdasarkan
pengamatan dilapangan dan interview yang dilakukan penulis dengan petani yang ada di Kecamatan Cempa
kabupaten Pinrang, ada beberapa kegiatan
petani yang dapat mengakibatkan potensi terjadinya masalah padi rebah menjadi lebih
besar yaitu :
1.
Pengolahan
Tanah
Pengolahan
tanah merupakan kegiatan utama dalam budidaya tanaman padi oleh karena itu
perlu pengolahan tanah yang baik. Umumnya pengolahan yang dilakukan oleh petani kurang benar, dimana
kedalaman rata-rata hanya sedalam 25cm hal ini berhubungan dengan konsumsi
bahan bakar (semakin dalam maka semakin tinggi penggunaan bahan bakar) sehingga
akar padi kurang berkembang, sedangkan kemampuan akar padi dapat mencapai
kedalaman 60cm bahkan mampu mencapai kedalam 80cm (Yoshida dan Hasegawa, 1982).
2.
Sistem
Tanam
Hasil pengamatan dilapangan ditemukan bahwa dari
577,5ha luas areal yang mengalami padi rebah yang terjadi di kecamatan
Cempa, hampir semuanya dialami oleh petani yang melakukan system tanam benih
langsung. System tanam ini memang disukai oleh banyak petani karena
system ini mempunyai beberapa
keuntungan diantaranya kebutuhan tenaga kerja untuk tanam yang lebih sedikit,
biaya tanam lebih rendah, lebih efisien dalam penggunaan air dan lebih cepat
panen dibandingkan dengan tanam pindah. Namun jika dilihat perkembangan akar padi pada sistem tabela sistem perakaran cuma mengarah kebawah dan sangat sedikit kearah samping, hal ini terjadi akibat tingginya persaingan antara tanaman karena tabela tidak memiliki baris yang baik serta jarak antara tanaman terlalu rapat, selain itu ketiadaan varietas yang
sesuai untuk tabela, kerebahan merupakan salah satu masalah utama.
3.
Tingginya
Penggunaan Moluskusida yang berbahan aktif Fentin asetat
Berdasarkan pengamatan dilapangan, 90%
petani di kecamatan Cempa menggunakan moluskusida yang berbahan aktif fentin
asetat hal ini disebabkan karena bahan aktif ini mampu membunuh keong dengan
cepat jika dibandingkan dengan moluskusida yang berbahan aktif lainnya, walaupun ketinggian air dalam petakan
sawah sangat tinggi moluskusida berbahan aktif fentin asetat masih dapat
membunuh keong dengan baik.
Namun dibalik keunggulan dari fentin asetat ini
ternyata menimbulkan efek negative terhadap tanaman padi, Fentin asetat
sejatinya adalah fungisida yang bersifat non-sistemik dan bekerja dengan cara
menghambat perkecambahan spora serta menghambat metabolisme jamur terutama
respirasi, namun karena efek membunuhnya terhadap keong (moluska) sangat baik
maka digunakanlah oleh sebagian produsen pestisida sebagai bahan baku pembuatan
moluskusida. Penggunaan fentin asetat yang berlebihan sebenarnya dapat mempengaruhi
tingkat keasaman tanah sehingga dapat berpengaruh pada kehidupan mikroorganisme
dalam tanah, selain itu dapat pula membunuh jamur yang menguntungkan dalam
tanah seperti jamur Tricoderma sp.
Trichoderma, sp merupakan cendawan (fungi) yang
termasuk dalam kelas ascomycetes, dimana Trichoderma, sp banyak ditemukan di
dalam tanah hutan maupun tanah pertanian atau pada tunggul kayu. Trichoderma,
sp akan tumbuh dengan baik pada suhu 6ºC sampai dengan 41ºC dengan ph optimum 3
sampai dengan 7 dan Sukrosa dan glukosa merupakan karbon utama. Untuk
berkembang biak cendawan ini menggunakan konidia (spora). Jamur Trichoderma
mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kecepatan pertumbuhan dan perkembangan
tanaman, terutama kemampuannya untuk membantu produksi perakaran sehat dan
meningkatkan angka kedalaman akar (lebih dalam di bawah permukaan tanah). Akar
yang lebih dalam tentunya akan membuat tanaman menjadi lebih resisten terhadap
kekeringan dan kerebahan tanaman
4.
Penggunaan
pestisida yang mengandung zat pengatur tumbuh (ZPT) Giberelin
Pestisida
merupakan factor pendukung dalam budiaya padi, kehadirannya terbukti mampu
meningkatkan hasil pertanian. Pada saat ini persaingan antara produsen pestisida
sangat tinggi, dimana suatu merk dagang yang mampu memberikan efek yang cepat
pada tanaman maka akan sangat disukai oleh petani. Oleh karena itu para
produsen ramai-ramai memberikan zat pengatur tumbuh khususnya dari jenis
giberelin pada setiap pestisida yang dibuatnya karena memang efek giberelin sangat
cepat khususnya dalam perubahan warna daun tanaman serta ukuran tanaman.
Ada
beberapa merk insektisida yang beredar dipasaran yang memiliki kandungan zpt giberelin
sedangkan untuk fungisida hampir semua merk dagang telah dibekali dengan zpt. Lalu
apa pengaruh zpt giberelin terhadap kasus padi rebah?. Giberelin merupakan
salah satu jenis zpt selain dari auksin dan sitokinin yang umum digunakan dalam
bidang pertanian, penggunaan zpt giberelin pada tanaman padi pada fase
vegetative akan mengakibatkan tanaman akan tumbuh melewati batas potensinya
atau batas genetiknya dimana batang akan memanjang akibat pembelahan sel
tanaman dan perenggangan yang terlalu besar sehingga jarak antara ruas batang
akan jauh selain itu diameter batang padi juga akan berkurang.
Hal ini sesuai
dengan hasil pengamatan dilapangan, dimana hampir semua kultivar atau varietas
yang ditanam memilki ukuran diatas normal sebagai sebuah varietas, sebagai contoh padi varietas ciherang yang
diukur dilapangan mencapai tinggi 131 cm sedangkan pada buku deskripsi padi,
tinggi padi ciherang Cuma berkisar antara 107cm – 115 cm, artinya ada
penambahan ukuran tinggi sekitar 16 cm
5.
Penggunaan
Pupuk Urea tidak tepat Waktu
Berdasarkan
anjuran pemupukan, bahwa waktu pemupukan terakhir untuk padi paling lambat
sampai umur 45 Hst, artinya padi tidak boleh lagi diberi pupuk ketika sudah
masuk fese generative. Namun akibat tingkat serangan hama penggerek batang yang
tinggi dua musim tanam ini yang begitu besar telah merubah pola pemupukan padi
yang dilakukan oleh petani, hasil pengamatan dan interview dari beberapa
petani, ditemukan bahwa petani banyak melakukan pemupukan di umur 70 hst atau
menjelang keluarnya buah, sebenarnya kegiatan ini bukan pemupukan yang
dijadikan kegiatan utama, tapi dimana pupuk tersebut telah diberikan
insektisida granul.
Kegiatan
ini sebenarnya bertujuan untuk melakukan proteksi terhadap hama penggerek
batang, petani berharap dengan adanya perlakuan ini maka tingkat serangan hama
penggerek batang (beluk) dapat dikurangi. walaupun penggunaan pupuk pada
perlakuan ini cuma sedikit, tetap memberi efek negative pada tanaman padi
dimana padi yang telah masuk ke generative akan terangsang kembali untuk
melakukan pembelahan sel pada jaringan tanaman akibatnya batang padi akan
semakin lemah selain itu daun padi juga akan semakin tebal dan memanjang yang
mana kesemuanya itu dapat mengakibatkan padi menjadi lebih rentan terhadap
kerebahan.
Itulah
beberapa kegiatan petani yang dilakukan dalam system budidaya tanaman padinya
yang menurut penulis telah memberi sumbangsi terhadap terjadinya padi rebah,
dan tentunya diperlukan suatu kajian yang lebih mendalam sehingga dapat
diketahui sejauh mana pengaruh setiap kegiatan petani tersebut dalam
mengakibatkan terjadinya padi rebah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar