Minggu, 22 Mei 2016

PERAN INOVASI PLANT GROWTH PROMOTING RHIZHOBAKTERIA (PGPR) DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL



PERAN INOVASI PLANT GROWTH PROMOTING RHIZHOBAKTERIA (PGPR) DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH UNTUK MENDUKUNG 
KETAHANAN PANGAN NASIONAL
Dalam meningkatkan hasil pertanian terkadang diperlukan suatu teknologi baru atau  inovasi, suatu inovasi sendiri tidak perlu terlalu rumit atau mahal namun dengan penerapanya mampu meningkatkan produksi  hasil pertanian sehingga petani mau dan mampu mengadopsi inovasi tersebut.
 Peran inovasi teknologi pertanian akan semakin penting mengingat pemerintah bertekad mewujudkan kembali swasembada pangan utamanya beras seperti yang pernah dicapai negera kita pada tahun 1984 silam. Dalam mencapai swasembada tersebut banyak kendala yang dihadapi oleh petani seperti tingginya serangan penyakit pada tanaman padi seperti blast dan hawar daun bakteri selain itu rendahnya kualitas tanah pertanian akibat kerusakan fisik, kimia dan biologis menjadi kendala yang serius bagi petani dalam meningkatkan hasil pertanian.
Plant growth promoting rhizhobakteria atau lebih dikenal dengan PGPR adalah sebuah teknologi atau inovasi yang sangat baik untuk dikembangkan, selain mudah dilakukan oleh petani bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan PGPR sendiri sangat mudah didapatkan bahkan melimpah di sekitar lahan pertanian, selain itu hasil penerapanya juga terbukti dapat meningkatkan produksi pertanian dengan cara meningkatkan kekebalan tanaman terhadap penyakit dan memperbaiki kualitas tanah.
Inovasi PGPR ini sendiri telah diterapkan di desa Tanra tuo Kecamatan Cempa, dimana PGPR ini telah dicoba di tanaman padi dan tanaman pisang dan hasilnya ditanaman padi terjadi peningkatan hasil sekitar 10% tanpa pengurangan pupuk kimia, dan untuk selanjutnya akan dilakukan pengurangan pupuk kimia secara bertahap. untuk tanaman padi PGPR ini sendiri dapat mengendalikan beberapa penyakit seperti blast, hawar daun bakteri dan penyakit lainnya baik itu sumbernya dari udara maupun dari dalam tanah sedangkan untuk tanaman pisang PGPR dapat mengendalikan penyakit fusarium. PGPR dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman melalui  produksi hormon pertumbuhan, kemampuan fiksasi N untuk peningkatan penyediaan N tanah, penghasil osmolit sebagai osmoprotektan pada kondisi cekaman kekeringan dan penghasil senyawa tertentu yang dapat membunuh patogen tanaman selain itu PGPR juga  mampu memperbaiki kualitas tanah dengan cara menekan bakteri pathogen dalam tanah dan sebagai bakteri yang dapat memperpercepat penguraian bahan organic dan dapat pula berfungsi sebagai pelarut phospat dimana phospat ini sendiri banyak dalam tanah namun tidak dapat diserap oleh akar tanaman akibat terikat dengan AL dan FE.
Cara pembuatannyapun tidaklah sulit dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Adapun caranya sebagai berikut; merendam 100 gr akar bambu dalam air matang dingin selama 2-4 hari. Merebus 400 gr gula pasir, 200 gr terasi, dan 10 lt air sampai memdidih. Setelah dingin semua bahan dimasukkan kedalam tempat kemudian ditutup rapat atau sebaiknya dibuatkan fermentor dari jerigen. Setelah 15 hari PGPR siap digunakan. Penggunaannya yaitu dengan mencampur 1 liter PGPR kedalam 1 tangki atau air sebanyak 16 liter dan disemprotkan ke lahan yang belum ditanami, dan diulangi penyemprotan setiap 20 hari sekali. PGPR ini dapat digunakan pada berbagai tanaman, baik tanaman padi, kedelai, sayuran, buah-buahan maupun tanaman hias. Dengan penggunaan PGPR, teknologi pengendalian ramah lingkungan secara komprehensif dan pengurangan penggunaan pestisida khusunya fungisida dan bakterisida dapat diterapkan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar