PERAN
INOVASI PLANT
GROWTH PROMOTING RHIZHOBAKTERIA (PGPR) DALAM PENINGKATAN
PRODUKTIVITAS PADI SAWAH UNTUK MENDUKUNG
KETAHANAN PANGAN NASIONAL
KETAHANAN PANGAN NASIONAL
Dalam
meningkatkan hasil pertanian terkadang diperlukan suatu teknologi baru
atau inovasi, suatu inovasi sendiri
tidak perlu terlalu rumit atau mahal namun dengan penerapanya mampu
meningkatkan produksi hasil pertanian
sehingga petani mau dan mampu mengadopsi inovasi tersebut.
Peran inovasi teknologi pertanian akan semakin
penting mengingat pemerintah bertekad mewujudkan kembali swasembada pangan
utamanya beras seperti yang pernah dicapai negera kita pada tahun 1984 silam.
Dalam mencapai swasembada tersebut banyak kendala yang dihadapi oleh petani seperti
tingginya serangan penyakit pada tanaman padi seperti blast dan hawar daun
bakteri selain itu rendahnya kualitas tanah pertanian akibat kerusakan fisik,
kimia dan biologis menjadi kendala yang serius bagi petani dalam meningkatkan
hasil pertanian.
Plant growth promoting rhizhobakteria
atau lebih dikenal dengan PGPR adalah sebuah teknologi atau inovasi yang sangat
baik untuk dikembangkan, selain mudah dilakukan oleh petani bahan-bahan yang
dibutuhkan dalam pembuatan PGPR sendiri sangat mudah didapatkan bahkan melimpah
di sekitar lahan pertanian, selain itu hasil penerapanya juga terbukti dapat
meningkatkan produksi pertanian dengan cara meningkatkan kekebalan tanaman
terhadap penyakit dan memperbaiki kualitas tanah.
Inovasi PGPR
ini sendiri telah diterapkan di desa Tanra tuo Kecamatan Cempa, dimana PGPR ini
telah dicoba di tanaman padi dan tanaman pisang dan hasilnya ditanaman padi
terjadi peningkatan hasil sekitar 10% tanpa pengurangan pupuk kimia, dan untuk
selanjutnya akan dilakukan pengurangan pupuk kimia secara bertahap. untuk
tanaman padi PGPR ini sendiri dapat mengendalikan beberapa penyakit seperti
blast, hawar daun bakteri dan penyakit lainnya baik itu sumbernya dari udara
maupun dari dalam tanah sedangkan untuk tanaman pisang PGPR dapat mengendalikan
penyakit fusarium. PGPR dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman
melalui produksi hormon pertumbuhan, kemampuan fiksasi N untuk
peningkatan penyediaan N tanah, penghasil osmolit sebagai osmoprotektan pada kondisi
cekaman kekeringan dan penghasil senyawa tertentu yang dapat membunuh patogen
tanaman selain itu PGPR juga mampu
memperbaiki kualitas tanah dengan cara menekan bakteri pathogen dalam tanah dan
sebagai bakteri yang dapat memperpercepat penguraian bahan organic dan dapat
pula berfungsi sebagai pelarut phospat dimana phospat ini sendiri banyak dalam
tanah namun tidak dapat diserap oleh akar tanaman akibat terikat dengan AL dan
FE.
Cara pembuatannyapun tidaklah sulit dan tidak
membutuhkan biaya yang besar. Adapun caranya sebagai berikut; merendam 100 gr
akar bambu dalam air matang dingin selama 2-4 hari. Merebus 400 gr gula pasir,
200 gr terasi, dan 10 lt air sampai memdidih. Setelah dingin semua bahan
dimasukkan kedalam tempat kemudian ditutup rapat atau sebaiknya dibuatkan
fermentor dari jerigen. Setelah 15 hari PGPR siap digunakan. Penggunaannya
yaitu dengan mencampur 1 liter PGPR kedalam 1 tangki atau air sebanyak 16 liter
dan disemprotkan ke lahan yang belum ditanami, dan diulangi penyemprotan setiap
20 hari sekali. PGPR ini dapat digunakan pada berbagai tanaman, baik tanaman
padi, kedelai, sayuran, buah-buahan maupun tanaman hias. Dengan penggunaan
PGPR, teknologi pengendalian ramah lingkungan secara komprehensif dan
pengurangan penggunaan pestisida khusunya fungisida dan bakterisida dapat diterapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar